|
Mencermati pergerakan harga saham komoditasPada hari Jumat 12 Januari 2007, dunia pasar modal Indonesia dikejutkan atas anjoknya harga saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (kode saham PGAS) sebesar Rp 2.550 atau 23,32 persen menjadi Rp 7.400 per saham. Penurunan yang sangat besar itu, diakibatkan oleh aksi panik jual investor. Diduga bahwa PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) tidak melakukan prosedur keterbukaan informasi sehingga menyebabkan kepanikan investor. Informasi yang tidak disampaikan terbuka antara lain mengenai penundaan penyelesaian pembangunan pipa gas Sumatera Selatan-Jawa Barat (South Sumatera-West Jave/SSWJ), belum terpasangnya beberapa pipa dan kompresor sehingga dapat berdampak pada tidak tercapainya target pengaliran gas oleh PGN sebesar 170 juta kaki kubik. Analis asing menilai dampak dari keterlambatan berbagai proyek PGN tersebut bisa berdampak sampai kuartal I-2008 dan akan mempengaruhi signifikan keuangan PGN. Lalu apa yang dapat diambil pelajaran dari kasus ini. Yang pertama adalah prinsip keterbukaan amat penting untuk disampaikan kepada publik, karena hal tersebut dapat mempengaruhi keputusan investasi investor. Melihat kasus Enron di Amerika, Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) harus menginvestigasi apa yang sebenarnya terjadi pada PGN, agar investor mempunyai informasi yang benar. Yang kedua adalah bahwa saham-saham komoditas adalah saham-saham yang lebih beresiko daripada saham-saham lainnya. Fluktuasi harga saham-saham ini amat tinggi. Ia dapat turun sekejap seperti apa yang terjadi pada saham PGN, dan dapat naik dengan cepat seperti pada saham PT Timah Tbk (Kode saham TINS) yang naik sampai 100 persen lebih antara 8 Desember 2006 (harga 2550) dan 8 Januari 2007 (harga 5900) dan saham PGN yang sempat mencapai 13 ribuan. Kenaikan harga tersebut banyak disebabkan oleh naiknya harga komoditas. Fluktuasi yang tinggi tersebut menandakan akan resiko yang lebih tinggi dan tentunya return yang tinggi pula jika dibandingkan dengan saham-saham lainnya. Harga saham-saham komoditas amat terpengaruh oleh harga komoditas dunia. Perusahaan-perusahaan komoditas/ pertambangan tersebut bergerak diindustri padat modal, sehingga ketidaktersedian dana akan sangat berpengaruh atas keuangan perusahaan. Dilapangan banyak sekali resiko yang menghadang, seperti pembebasan lahan atau resiko rusaknya infrastruktur (pipa penyaluran gas). Tentunya resiko yang lebih besar tersebut pantas dihadiahi dengan return yang lebih besar pula. Melihat resiko yang besar akibat adanya ketidakpastian atas apa yang akan terjadi pada masa depan, membuat Warren Buffett, orang terkaya kedua didunia, menghindari saham-saham komoditas. Walaupun demikian ia pernah menanamkan modal pada komoditas tembaga. Karakteristik tersebut, menyebabkan saham-saham komoditas tidak cocok untuk investasi jangka panjang, karena apakah harga komoditas yang tinggi saat ini akan tetap tinggi dimasa depan. Hal yang sama terjadi pada harga minyak dunia, setelah sempat mencapai harga tertinggi dan diperkirakan akan mencapai US$100, sekarang harganya ‘hanya’ US$55. Kesimpulannya, jika harga komoditas sedang tinggi dan anda ingin berinvestasi jangka panjang, sebaiknya anda tidak bermain di saham-saham komoditas. Harga tersebut dapat turun, dan tentu saja dapat naik lagi. Apakah anda dapat mengambil resiko tersebut? Dengan resiko yang lebih tinggi, investor perlu mendapatkan return yang lebih tinggi pada saham-saham tersebut. Jika anda merasa tidak akan mendapatkan return yang lebih tinggi, hindarilah saham-saham pertambangan/komoditas tersebut. |
Web service
Other service
|